AKTIVISME POLITIK BADAN KOORDINASI PERCEPATAN PEMBENTUKAN KABUPATEN CIBALIUNG (BAKOR P2KC) DALAM MENGADVOKASI PEMEKARAN WILAYAH DI KABUPATEN PANDEGLANG
DOI:
https://doi.org/10.56945/jkpd.v9i2.363Kata Kunci:
Regional Expansion, Local Autonomy, Territorial Coalition, Political DynamicsAbstrak
Ekspansi wilayah melalui pembentukan daerah otonom baru banyak didorong di Indonesia, tetapi banyak usulan terhenti karena kendala politik dan regulasi. Artikel ini menganalisis aktivisme politik Badan Koordinasi Percepatan Pembentukan Kabupaten Cibaliung (Bakor P2KC) dalam mengadvokasi pemisahan Cibaliung dari Kabupaten Pandeglang. Kajian ini menelaah urgensi dan motif pemekaran, koalisi teritorial yang dibangun, serta hambatan utama realisasi Kabupaten Cibaliung. Penelitian menggunakan desain studi kasus kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap pimpinan Bakor P2KC, didukung observasi dan analisis dokumen, serta triangulasi data. Temuan menunjukkan bahwa tuntutan pemekaran dipicu ketimpangan layanan publik, jauhnya jarak ke ibu kota kabupaten, dan persepsi bahwa Pandeglang selatan—meski berkontribusi besar pada PAD dan memiliki sumber daya alam serta pariwisata—kurang mendapatkan pembangunan. Bakor P2KC berperan sebagai koalisi teritorial yang memobilisasi dukungan masyarakat, membangun aliansi dengan elit, dan melakukan lobi di tingkat lokal, provinsi, hingga nasional. Namun, moratorium nasional pemekaran, birokrasi yang kompleks, dan kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal daerah induk membuat proses terhenti. Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun Cibaliung memenuhi banyak kriteria teknis dan sosial ekonomi, keputusan politik nasional tetap menjadi penghalang utama dan merekomendasikan penguatan bukti empiris serta kajian kesiapan untuk menyongsong peluang pascamoratorium.
Referensi
Adyawarman. (2021). The Challenges of Public Innovation : Insights From Risk Governance in Batang Regency. Jurnal Kebijakan Dan Administrasi Publik, 25(1), 1–24. https://jurnal.ugm.ac.id/jkap/article/view/62314/31602
Agustino, L. (2010). Dinasti Politik Pasca-Otonomi Orde Baru: Pengalaman Banten. Prisma, 29, 102–116.
Agustino, L., & Yusoff, M. A. (2008). Proliferasi dan etno-nasionalisme daripada pemberdayaan dalam pemekaran daerah di Indonesia. Bisnis & Briokrasi, 15(3), 196–201.
Antlöv, H., & Wetterberg, A. (2014). Village Governance , Community Life , and the 2014 Village Law in Indonesia. 1–40.
Cheema, G. S., & Rondinelli, A., D. (2007). Decentralizing Governance: Emerging Concepts and Practices. Brookings Institution Press, Ash Institute for Democratic Governance and Innovation. https://www.jstor.org/stable/10.7864/j.ctt1261v1
Cheema, G. S., & Rondinelli, D. A. (1983). Decentralization and development: policy implementation in developing countries. In Decentralization and development: policy implementation in developing countries. (Issue 581).
Creswell. (2014). Penelitian Kualitatif & Desain Riset (3rd ed.). Pustaka Pelajar.
Eilenberg, M. (2009). Negotiating autonomy at the margins of the state the dynamics of elite politics in the borderland of West Kalimantan, Indonesia.
South East Asia Research, 17(2), 201–227. https://doi.org/10.5367/000000009788745831
Hidayat, R. (2015). Otonomi Daerah dan Demokrasi Lokal di Indonesia. Pustaka Demokrasi.
Hidayati, F. (2017). Can decentralization affect public service delivery? A preliminary study of local government’s innovation and responsiveness in Indonesia. Firda Hidayati/ JPAS, 1(3), 80–86.
Kimura, E. (2010). Proliferating provinces: Territorial politics in post-Suharto Indonesia. South East Asia Research, 18(3), 415–449. https://doi.org/10.5367/sear.2010.0005
Kuncoro, M. (2012). Ekonomi Pembangunan: Teori dan Aplikasi. UPP STIM YKPN.
Mahpudin, M., Indriyany, I. A., & Hikmawan, M. D. (2021). Between Elites and Society: The Politics of Territorial Splits in a Decentralizing Era, Case of
Lebak District, Indonesia. Journal of Governance, 6(1). https://doi.org/10.31506/jog.v6i1.11019
Pratiwi Sofia, A., & Sutanto, H. (2023). Dampak Pemekaran Desa Pada Kehidupan Sosial Dan Ekonomi Di Desa Sama Guna, Kecamatan Tanjung. Journal of Economics and Business, 9(1), 14–22. https://doi.org/10.29303/ekonobis.v9i1.127
Ramdhani, H., Politik, D. I., Indonesia, U., Cirebon, K., Indramayu, K., Daerah, P., & Ekonomi, S. D. (n.d.). DINAMIKA ELITE POLITIK LOKAL MENGENAI ISU. 3, 182–203.
Rohmah, N. S., & Rohmah, N. S. (2018). Elit Dan Pemekaran Daerah; Konflik Antar Elit Dalam Proses Pembentukan Provinsi Banten. CosmoGov, 4(2), 173. https://doi.org/10.24198/cosmogov.v4i2.16133
Smith, B. C. (1985). Decentralization The Territorial Dimension of the State. Allen & Unwin.
Suryanto, S. (2013). Pemekaran Daerah di Indonesia. Jurnal Desentralisasi, 11(1), 359–370. https://doi.org /10.37378/jd.2013.1.359-370
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Kebijakan Pembangunan Daerah

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Jurnal Kebijakan Pembangunan Daerah is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-Sharealike 4.0 International License.


.png)